Senin, 03 Desember 2012

MAKALAH PSIKOLOGI INTELEGENSI medistra lubuk pakam



                      makalah intelegensi


BAB I
PENDAHULUAN
Secara umum, manusia sering memahami psikologi adalah ilmu tentang tingkah laku manusia dan hewan.[1][1] Penekanan dalam ilmu psikologi terletak pada tingkah laku (behavioristik) makhluk (individu). Namun pada perkembangan berikutnya, banyak ahli yang berbeda pendapat dalam mendefinisikan psikologi. Hal ini disebabkan perbedaan mereka dalam menilai faktor yang mendorong tingkah laku manusia, di samping perbedaan cara pandang mereka dalam mengamati aspek-aspek yang membangun psikologi manusia itu sendiri.
Kenyataan ini pada akhirnya menghasilkan beberapa teori dalam ilmu psikologi. Salah satu teori yang terkenal adalah theory kognitif. Teori ini diperkenalkan sekitar abad ke-19 oleh Gestalt, dan dilanjutkan oleh Spearman, Gardner, Wilhelm Stern, Thrustone, dan sebagainya.
Hal yang terpenting dalam theory kognitif ini adalah peranan intelegensi dalam perilaku seseorang. Meskipun demikian, para tokoh tersebut juga berbeda satu sama lain dalam mendefinisikan intelegensi itu sendiri.
Seperti halnya Gardner, ia berpendapat bahwa intelegensi itu dibagi dalam 10 dimensi – dalam buku Prof. Dr. Djaali berjumlah 7 dimensi dan dalam bukunya Robert E. Slavin berjumlah 9. Berbeda dengan pandangan teori struktur yang dipaparkan oleh Guilford yang memandang intelegensi terdiri atas 150 kemampuan dengan tiga paramater.
Dalam pembahasan berikutnya, kita akan menyampaikan lebih mendalam gagasan Gardner terkait intelegensi, yang menyatakan kemampuan (kecerdasan) manusia itu banyak jenis dan beranekaragam, yang kemudian disebut dengan theory multiple intelegensi.




BAB II
PEMBAHASAN

A.        DEFINISI INTELEGENSI
Intelligere adalah asal kata intelegensi yang biasa kita kenal, yang mengandung arti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain.[2][2] Novelis Inggris abad ke-20 Aldous Huxley mengatakan bahwa anak-anak itu hebat dalam hal rasa ingin tahu dan intelegensinya. Apa yang dimaksud Huxley ketika ia menggunakan kata intelegensi (intelligence)? Intelegensi adalah salah satu milik kita yang paling berharga, tetapi bahkan orang yang paling cerdas sekalipun tidak sepakat tentang apa intelegensi itu[3][3].
Para ahli mempunyai pengertian yang beragam tentang intelegensi yaitu :
1.       Anita E. Woolfolk mengemukakan bahwa menurut teori-teori lama, intelegensi itu meliputi tiga pengertian, yaitu (1) kemampuan untuk belajar; (2) keseluruhan pengetahuan yang diperoleh; (3) kemampuan untuk beradaptasi secara berhasil dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya. Selanjutnya Woolfolk mengemukakan bahwa intelegensi itu merupakan satu atau beberapa kemampuan untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan dalam rangka memecahkan masalah dan beradaptasi dengan lingkungan[4][4].
2.       Alfred Binet, seorang tokoh utama perintis pengukuran intelegensi bersama Theodore simon mendefinisikan intelegensi atas tiga komponen yaitu (a) kemampuan untuk mengarahkan fikiran atau mengarahkan tindakan; (b) kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan dan (c) kemampuan untuk mengkritik diri sendiri atau melakukan autocriticism.
3.        David Wechsler pencipta skala-skala intelegensi yang populer sampai saat ini, mendefinisikan intelegensi sebagai kumpulan atau totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dalam tujuan tertentu, berfikir secara rasional, serta mengahadapi lingkungannya dengan efektif.
Beberapa pakar mendeskripsikan intelegensi sebagai keahlian untuk memecahkan masalah (problem-solving). Yang lainnya mendeskripsikannya sebagai kemampuan untuk beradaptasi dan belajar dari pengalaman hidup sehari-hari. Dengan mengkombinasikan ide-ide ini kita dapat menyusun definisi inteligensi yang cukup fair:keahlian memecahkan masalah dan kemampuan untuk beradaptasi pada, dan belajar dari, pengalaman hidup sehari-hari. Tetapi, bahkan definisi yang luas ini tidak memuaskan semua orang. Seperi yang akan anda lihat sebentar lagi, beberapa ahli teori mengatakan bahwa keahlian bermusik harus dianggap sebagai bagian dari intelegensi. Juga, sebuah definisi intelegensi yang didasarkan pada teori seperti teori Vygotsky harus juga memasukkan factor kemampuan seseorang untuk menggunakan alat kebudayaan dengan bantuan individu yang lebih ahli. Karena intelegensi adalah konsep yang abstrak dan luas, maka tidak mengherankan jika ada banyak definisi. Jadi menurut Santrock (2008) intelegensi (kecerdasan) adalah keterampilan menyelesaikan masalah dan kemampuan untuk beradaptasi dan belajar dari pengalaman hidup sehari-hari[5][5]
Wilhelm Stern melihat, titik berat definisi intelegensi terletak pada kemampuan penyesuaian diri (adjustment) seseorang terhadap masalah yang dihadapi.[6][6] Artinya, orang yang intelegensinya tinggi (cerdas), akan memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dan memiliki kecakapan dalam menghadapi masalah baru.
Sejalan dengan pendapat Stern, Amsal Amri juga mengemukakan bahwa intelegensi adalah kemampuan untuk melakukan abstraksi, serta berpikir logis dan cepat sehingga dapat bergerak dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru.[7][7] Di sini Amsal melihat ada beberapa aspek kemampuan yang dimaksud, yakni 1) kemampuan kognitif, 2) kemampuan psikomotorik, dan 3) kemampuan afektif. Ketiga hal ini disebut dengan kecerdasan (intelegensi).[8][8]
Sedangkan Slavin menjelaskan kecerdasan adalah salah satu diantara kata-kata yang diyakini setiap orang bahwa mereka memahaminya hingga anda meminta mereka mendefinisikannya. Pada satu tahap, kecerdasan dapat didefinisikan sebagai bakat umum untuk belajar atau kemampuan untuk mempelajari dan menggunakan pengetahuan atau keterampilan.[9][9]
Sedangkan Howard Gardner (dalam Sunaryo Kartadinata, 2007: 6)[10][10], mendefinisikan kecerdasan sebagai:
1.         Kemampuan memecahkan masalah yang muncul dalam kehidupan nyata;
2.         Kemampuan melahirkan masalah baru untuk dipecahkan.;
3.         Kemampuan menyiapkan atau menawarkan suatu layanan yang bermakna dalam kehidupan kultur tertentu.
Lebih lanjut Gardner mendefinisikan Intelegensi sebagai kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dan dalam situasi yang nyata (1983;1993)[11][11]. Gardner menganggap, intelegensi bukan hanya kemampuan dalam memecahkan persoalan yang sifatnya test (teori), yang dilakukan dalam ruang tertutup dan jauh dari realitas persoalan yang dhadapi oleh lingkungannya. Namun intelegensi adalah kemampuan menyelesaikan persoalan yang nyata (real), yang sungguh-sungguh terjadi. Karena menurut Gardner, orang baru dikatakan berintelegensi kalau mampu memecahkan persoalan lingkungan yang benar-benar dia hadapi. Bahkan, Gardner menganggap, tingkat produktifitas (kreatifitas) juga menjadi ukuran intelegensi seseorang.
B.      TEORI-TEORI INTELEGENSI
Spearman berpendapat bahwa setiap individu memiliki General Ability (General Factor/G) dan Specific Ability (Specific Faktor/S).[12][12] Kedua hal tersebut adalah faktor yang terkandung dalam intelegensi, walau dalam setiap individu faktor-faktor tersebut karakternya berbeda. Sejalan dengan Super dan Cites, yang menganggap intelegensi adalah kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan atau belajar dari pengalaman.[13][13]
Minat terhadap intelegensi seringkali difokuskan pada perbedaan individual dan penilaian individual (Kaufman & Lictenberger, 2002; Lubinski, 2000; Molfse & Martin, 2001). Perbedaan individual adalah cara dimana orang berbeda satu sama lain secara konsisten dan tetap. Kita bisa berbicara tentang perbedaan individual dalam hal kepribadiannya (personalitas) dan dalam bidang-bidang lain, namun intelegensilah yang paling banyak diberi perhatian dan paling banyak dipakai untuk menarik kesimpulan tentang perbedaan kemampuan murid.[14][14]
Jika disederhanakan, Prof. Dr. H. Djaali dalam bukunya Psikologi Pendidikan[15][15] mengatakan bahwa teori intelegensi menurut para ahli adalah sebagai berikut:
1)        Teori Faktor
Charles Spearman mendeskripsikan struktur intelegensi yang terdiri dari General Ability (G) dan Specific Ability (S).
2)        Teori Struktur Intelegensi
Teori ini disampaikan oleh Guilford. Menurut Guilford, struktur kemampuan intelektual seseorang memiliki 150 kemampuan dan memiliki tiga paramater, yaitu operasi, produk, dan konten.
3)        Teori Uni Faktor
Wilhelm Stern beranggapan intelegensi adalah kapasitas atau kemampuan umum. Kapasitas umum tersebut tumbuh akibat pertumbuhan fisiologis ataupun akibat belajar.
4)        Teori Multi Faktor
E.L. Thorndike berpendapat, bahwa intelegensi adalah bentuk hubungan neural antara stimulus dengan respons. Hubungan inilah yang mengarahkan tingkah laku individu.
5)        Theory Primary Ability
Thurstone membagi intelegensi menjadi kemampuan primer yang terdiri atas kemampuan numerical/matematis, verbal atau bahasa, abstraksi, berupa visualisasi atau berpikir, membuat keputusan, induktif maupun deduktif, mengenal atau mengamati, dan mengingat.
6)        Teori Sampling
Menurut teori ini, intelegensia merupakan berbagai kemampuan sampel. Hal ini dikarenakan pandangan Godfrey H. Thomson yang memandang dunia sebagai kumpulan-kumpulan pengalaman.
7)        Entity Theory
Intelegensi dianggap sebagai suatu kesatuan yang tetap dan tidak berubah-ubah.
8)        Incremental Theory
Teori ini menganggap, setiap individu mempunyai potensi untuk cerdas, dan kecerdasan tersebut bisa ditingkatkan melalui proses belajar.
9)        Teori Multiple Intelegensi
Teori multiple intelegensi ini disampaikan oleh Gardner. Menurut Gardner intelegensi manusia memiliki tujuh dimensi yang semiotonom, yaitu linguistik, musik, matematik logis, visual spesial, kinestatik fisika, sosial interpersonal, dan intrapersonal. Setiap dimensi tersebut memiliki kompetensi yang eksistensinya berdiri sendiri dalam sistem neuron. Artinya tidak terbatas pada yang bersifat intelektual.
Berdasarkan pemaparan di atas maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa intelegensi (kecerdasan) adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu dalam merespon dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, serta tingkat produktifitas dan kreatifitas dalam memecahkan persoalan yang dihadapi.
Dalam pembahasan selanjutnya, kami akan memaparkan teori multiple intelegensi yang digagas oleh Gardner. Karena teori multiple intelegensi lebih banyak bersentuhan dengan aspek-aspek yang terdapat dalam diri manusia.
C.      PENGUKURAN INTELIGENSI
            Pada tahun 1904 Menteri pendidikan Perancis meminta psikolog Alfred Binet untuk menyusun metode guna mengidentifikasi anak-anak yang tidak mampu belajar disekolah. Para pejabat disekolahan ingin mengurangi sekolahan yang sesak dengan cara memindahkan murid yang kurang mampu belajar di sekolah umum ke sekolah khusus. Binet dan mahasiswanya, Theophile Simon, menyusun tes inteligensi untuk memenuhi permintaan ini. Tes itu disebut skala 1905. Tes ini terdiri dari 30 pertanyaan, mulai dari kemampuan untuk menyentuh telinga hingga kemampuan untuk menggambar desain berdasarkan ingatan dan mendefinisikan konsep abstrak.
Tes binet
 Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.
Binet mengembangkan konsep mental age (MA) atau usia mental yakni perkembangan mental individu yang berkaitan dengan perkembangan lain. Tak lama kemudian, pada 1912 Wiliam Stern menciptakan konsep Intelegensi Quotient (IQ) yaitu usia mental seseorang dibagi dengan usia kronologis (chronological age-CA) dikalikan 100. Jadi rumusnya,
IQ = (MA/CA)*100.
Jika usia mental sama dengan usia kronologis, maka IQ orang itu adalah 100. Jika usia mental di atas kronologis, maka-IQnya lebih dari 100. Misalnya, anak enam tahun dengan usia mental 8 tahun akan mempunyai IQ 133. Jika usia mentalnya dibawah usia kronologis, maka IQnya di bawah 100. Misalkan anak usia 6 dengan usia mental 5 akan punya IQ 83. Berikut adalah klasifikasi IQ menurut Binet:
KLASIFIKASI
IQ
Genius
140 ke atas
Sangat cerdas
130 – 139
Cerdas (superior)
120 – 129
Di atas rata-rata
110 – 119
Rata-rata
90 – 109
Di bawah rata-rata
80 – 89
Garis Batas (bodoh)
70 – 79
Moron (lemah pikir)
50 – 69
Imbisil,idiot
49 ke bawah

Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_Binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman yang bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.
Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.
Dengan melakukan tes untuk banyak orang dari usia yang berbeda dan latar belakang yang beragam, peneliti menemukan bahwa skor pada tes Stanford-Binet mendekati distribusi normal.








Distribusi normal adalah simetris, dengan mayoritas skor berada pada tengah-tengah rentang skor yang mungkin muncul dan hanya ada sedikit skor yang berada mendekati ujung dari rentang itu.
Tes Stanford binet kini dilakukan secara individual untuk orang dari usia 2 tahun hingga dewasa. Tes ini memuat banyak item beberapa diantaranya membutuhkan jawaban verbal, yang lainnya respon non verbal.
Edisi keempat tes Stanford-Binet dipublikasikan pada 1985. Salahsatu penambahan penting pada versi ini adalah analisis respons individual dari segi empat fungsi: penalaran verbal, penalaran kuantitatif, penalaran visual abstrak, dan memori jangka pendek. Skor komposit umum masih dipakai untuk mengetahui keseluruhan inteligensi. Tes Stanford-Binet masih menjadi salah satu tes yang paling banyak digunakan untuk menilai inteligensi murid (Aiken, 2003; Walsh&Betz, 2001).
Skala Wechsler
Tes lainnya yang banyak dipakai untuk menilai intelegensi murid dinamakan skala weshsler yang dikembangkan oleh David Wechsler. Tes ini mencakup Weshsler Pre school and Primary scale of Intellegensi Revised (WPPSI-R) untuk menguji anak usia 4-6,5 tahun; Weshsler Intellegensi Scale for Children- Revised (WISC-R) untuk anak dan remaja dari usia 6-16 tahun; dan Weshsler Adult Intellegensi Scale-Revised (WAIS-R) untuk orang dewasa.
Selain menunjukan IQ keseluruhan, skala Weshsler juga menunjukan IQ verbal dan IQ kinerja. IQ verbal didasarkan pada 6 sub skala verbal, IQ kinerja didasarkan pada 5 sub skala kinerja. Ini membuat peneliti bias melihat dengan cepat pola-pola kekuatan dan kelemahan dalam area intelegensi murid yang berbeda-beda (Woolger 2001)[16][16]
Berikut adalah Klasifikasi menurut Wechsler:
KLASIFIKASI
IQ
Very Superior
130 ke atas
Superior
120 –129
Bright Normal
110 –119
Average
90 – 109
Dull Normal
80 – 89
Borderline
70 –79
Mental Deffective
69 ke bawah


D.        MACAM-MACAM INTELEGENSI PERSPEKTIF TEORI MULTI INTELEGENSI
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa kecerdasan adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh individu dalam menghadapi masalah yang ada di lingkungannya. Setiap individu dengan individu lainnya memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Gardner berpendapat, bahwa kemampuan itu sendiri memiliki banyak jenis dan dimensi. Keanekaragaman jenis kemampuan-kemampuan inilah yang disebut dengan kecerdasan majemuk (multiple intelegensi). Realita inilah yang mendorong Gardner menelurkan gagasannya tentang multilpe intelegensi (kecerdasan majemuk).
Menurut teori ini, setiap anak yang terlahir di dunia tidak ada yang bodoh. Semuanya memiliki kesempatan dan hak untuk disebut sebagai orang yang cerdas.[17][17] Pendapat Gardner ini membuka wawasan kita tentang hakikat dari kecerdasan. Selama ini penilaian tentang kecerdasan hanya terbatas pada sesuatu yang sempit dan statis. Namun Gardner – dan para ahli lainnya – memaknai kecerdasan sebagai kemampuan seseorang dalam beradaptasi, lebih jauh Gardner menambahkan penekanannya pada aspek atau dimensi psikologis manusia yang membentuk jenis-jenis kemampuan tersebut.
Pada tahun-tahun belakangan ini, banyak perdebatan tentang kecerdasan terfokus untuk memutuskan apakah terdapat banyak jenis kecerdasan yang berbeda-beda dan untuk menjelaskan masing-masing. Misalnya, Sternberg (2002, 2003) menjelaskan tiga jenis kemampuan intelektual: analitis, praktis dan kreatif.
Delapan kerangka pikiran Gardner, kerangka ini di deskripsikan bersama dengan contoh pekerjaan yang merefleksikan kekuatan masing-masing kerangka (Campbell, Campbell & Dickinson, 1999):
1.       Keahlian verbal
Kemampuan untuk berfikir dengan kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan makna (penulis, wartawan, pembicara).
2.       Keahlian matematika/logika
Kemampuan untuk menyelesaikan operasi matematika ( ilmuwan, insinyur, akuntan).
3.       Keahlian spasial
Kemampuan untuk berfikir tiga dimensi (arsitek, perupa, pelaut)
4.       Keahlian tubuh-kinestetik
Kemampuan untuk memanipulasi objek dan cerdas dalam hal-hal fisik ( ahli bedah, pengrajin, penari, atlet)
5.       Keahlian music
Sensitive terhadap nada, melodi, irama, dan suara (composer, musisi, dan pendengar yang sensitive)
6.       Keahlian intrapersonal
Kemampuan untuk memahami diri sendiri dan menata kehidupan dirinya secara efektif (teolog, psikolog).
7.       Keahlian interpersonal
Kemampuan untuk memahami dan berinteraksi secara efektif dengan orang lain ( guru teladan, professional kesehatan mental).
8.       Keahlian naturalis
Kemampuan untuk mengamati pola-pola di alam dan memahami system alam dan system buatan manusia (petani, ahli botani, ahli ekologi, ahli tanah).
Terkait macam-macam intelegensi yang dipaparkan oleh Gardner, Prof. Dr. H. Djaali memetakan ada tujuh jenis seperti yang sudah kami sebutkan di atas. Namun dalam beberapa referensi lainnya, seperti yang dipaparkan oleh Sunardi dkk, multiple intelegensi  yang dipaparkan oleh Gardner ada 10 macam intelegensi.[18][18]
Sunardi dkk, sesuai dengan teori multiple intelegensi yang disampaikan oleh Gardner, membagi kecerdasan dengan 10 bidang (aspek) dalam psikologi manusia. Berdasarkan pendekatan tersebut, kecerdasan atau intelegensi ada 10 macam, yaitu:
1.         Kecerdasan linguistic (linguistik intelligence)
Adalah kemampuan untuk berfikir dalam bentuk kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekpresikan dan menghargai makna yang komplek, yang meliputi kemampuan membaca, mendengar, menulis, dan berbicara.
2.         Intelegensi logis-matematis (logical matematich)
Adalah kemampuan dalam menghitung, mengukur dan mempertimbangkan proposisi dan hipotesis serta menyelesaikan operasi-operasi matematika.
3.         Intelegensi musik (musical intelegence)
Intelegensi musik adalah kecerdasan seseorang yang berhubungan dengan sensitivitas pada pola titik nada, melodi, ritme, dan nada. Musik adalah bahasa pendengaran yang menggunakan tiga komponen dasar yaitu intonasi suara, irama dan warna nada yang memakai system symbol yang unik.
4.         Intelegensi Kinestetik
Kinestetik adalah belajar melalui tindakan dan pengalaman melalui panca indera. Intelegensi kinestetik adalah kemampuan untuk menyatukan tubuh atau pikiran untuk menyempurnakan pementasan fisik. Dalam kehidupan sehari-hari dapat diamati pada actor, atlet atau penari, penemu, tukang emas, mekanik.
5.         Intelegensi Visual-spasial
Intelegensi visual-spasial merupakan kemampuan yang memungkinkan memvisualisasikan informasi dan mensintesis data-data dan konsep-konsep ke dalam metavor visual.
6.         Intelegensi Interpersonal
Intelegensi interpersonal adalah kemampuan untuk memahami dan berkomunikasi dengan orang lain dilihat dari perbedaan, temperamen, motivasi, dan kemampuan.
7.         Intelegensi Intrapersonal
Adalah kemampuan seseorang untuk memahami diri sendiri dari keinginan, tujuan dan system emosional yang muncul secara nyata pada pekerjaannya.
8.         Intelegensi Naturalis
Adalah kemampuan untuk mengenal flora dan fauna melakukan pemilahan-pemilahan utuh dalam dunia kealaman dan menggunakan kemampuan ini secara produktif, misalnya untuk berburu, bertani, atau melakukan penelitian biologi.
9.          Intelegensi Emosional
Adalah yang dapat membuat orang bisa mengingat, memperhatikan, belajar dan membuat keputusan yang jernih tanpa keterlibatan emosi. Jadi intelegensi emosional disini berkaitan dengan sikap motivasi, kegigihan, dan harga diri yang akan mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan siswa.
10.     Intelegensi Spiritual
Adalah kemampuan yang berhubungan dengan pengakuan adanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta beserta isinya.[19][19]

E.       EMOTIONAL INTELLEGENCE

Baik itu teori Gardner maupun Sternberg mencakup satu atau lebih kategori inteligensi social. Dalam teori Gardner, kategori tersebut adalah inteligensi interpersonal dan inteligensi intrapersonal. Dalam teori Sternberg, kategori tersebut adalah inteligensi praktis. Teori lain yang memandang arti penting dari aspek praktis, aspek interpersonal dan aspek intrapersonal dalam inteligensi telah menarik banyak minat baru-baru ini. Teori itu dinamakan emotional intelligence (kecerdasan emosional), yang didefinisikan oleh Peter salovy dan John Mayer (1990) sebagai kemampuan untuk memonitor perasaan diri sendiri dan perasaan serta emosi orang lain, kemampuan untuk membedakannya, dan kemampuan untuk menggunakan informasi ini untuk memadu pemikiran dan tindakan dirinya.
Konsep kecerdasan emotional intelligence oleh Daniel Goleman (1995). Goleman percaya bahwa untuk memprediksi kompetensi seseorang, IQ seperti yang diukur dengan tes kecerdasan ternyata tidak lebih penting dari kecerdasan emosional. Menurut Goleman, emotional intelligence terdiri dari empat area:
1.       Developing emotional awareness-seperti kemampuan untuk memisahkan perasaan dari tindakan.
2.       Managing emotions-seperti mampu untuk mengendalikan amarah.
3.       Reading emotions-seperti memahami perspektif orang lain.
4.       Handling relationships-seperti kemampuan untuk memecahkan problem hubungan.

F.       PERANAN ALAM DAN LINGKUNGAN DALAM MEMPENGARUHI INTELEGENSI
Beberapa psikologi (seperti Herrnstein & Murray, 1994; Toga & Thompson, 2005) berpendapat bahwa kecerdasan kebanyakan merupakan produk keturunan-bahwa kecerdasan anak-anak sebagian besar ditentukan oleh kecerdasan orang tua mereka dan sudah ditetapkan pada hari pertama mereka dikandung. Pakar lain (seperti Gordon & Bhattacharyya, 1994; Plomin, 1989; Rifkin, 1998) dengan sama-sama tegas berpendapat bahwa kecerdasan dibentuk kebanyakan oleh factor di dalam lingkungan social seseorang, seperti seberapa banyak dibacakan dan dibicarakan kepada anak tertentu. Kebanyakan peneliti setuju bahwa keturunan maupun lingkungan memainkan peran penting bagi kecerdasan (Petrill & Wilkerson, 2000).

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi adalah :
1)        Faktor Bawaan atau Keturunan
Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 - 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 - 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.
2)      Faktor Lingkungan
Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa
terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat
dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain
gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat
kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.[20][20]
Jelas bahwa anak-anak yang orang tuanya berpencapaian tinggi secara rata-rata lebih mungkin pada dirinya menjadi orang yang berpencapaian tinggi, tetapi hal ini terjadi karena lingkungan keluarga yang diciptakan oleh orang tua yang berpencapaian tinggi maupun karena genetika (Turkheimer, 1994).
Salah satu bagian penting bukti yang mendukung pandangan lingkungan ialah bahwa sekolah sendiri jelas mempengaruhi nilai IQ.

G.       IMPLEMENTASI MULTIPLE INTELEGENSI DALAM KURIKULUM
Pengembangan potensi intelegensi, yang mencakup kemampuan kognitif, psikomotorik dan afektif, adalah beberapa aspek yang menjadi tujuan akhir dari proses pembelajaran. Di sini intelegensi tidak semata-mata dimaknai kecakapan dalam aspek kognitif semata, namun aspek psikomotorik dan afektif juga menjadi indikator kecerdasan (intelegensi).
Teori multiple intelegensi, dengan menitikberatkan pengembangan kecakapan (kecerdasan) majemuk, bisa dijadikan sebagai pendekatan dalam desain dunia pendidikan. Kesadaran fitrah manusia, yang dibekali dengan potensi berbeda (faktor gen) dan hidup dalam lingkungan yang berbeda (faktor lingkungan), diharapkan akan mampu menampilkan bentuk kurikulum pendidikan yang dinamis. Artinya, kurikulum pendidikan, mulai dari infrastruktur, materi ajar, pendidik, tenaga kependidikan, dan stakeholders diharapkan akan mampu mengembangkan potensi peserta didik yang beraneka ragam. Melalui pendekatan ini pula, diharapkan dunia pendidikan mampu melihat potensi peserta didik.
Implementasi teori multiple intelegensi dalam kurikulum bisa dibatasi dengan menciptakan kurikulum pembelajaran yang selaras dengan dimensi intelegensi yang dicakup dalam teori multiple intelegensi. Upaya ini diharapkan lebih bisa mendiagnosis potensi para peserta didik, serta tepat dalam pengembangan potensi-potensi tersebut.
Adapun dimensi psikologis yang diharapkan akan menjadi titik pijak desain kurikulum pendidikan sebagaimana kami sampaikan di atas, yaitu 1) Kecerdasan linguistic (linguistik intelligence); 2) Intelegensi logis-matematis (logical matematich); 3) Intelegensi musik (musical intelegence); 4) Intelegensi Kinestetik; 5) Intelegensi Visual-spasial; 6) Intelegensi Interpersonal; 7) Intelegensi Intrapersonal; 8) Intelegensi Naturalis; 9)  Intelegensi Emosional; dan 10) Intelegensi Spiritual.
Kesepuluh dimensi tersebut, diharapkan akan menjadi karakter kurikulum pendidikan. Sehingga akan mudah dilakukan diagnosis terhadap potensi para peserta didik, dan akan lebih memudahkan dalam optimalisasi potensi peserta didik.
H.       PENDEKATAN DAN IMPLEMENTASI MULTIPLE INTELEGENSI DALAM PEMBELAJARAN
Kemampuan-kemampuan yang termasuk dalam sepuluh aspek kecerdasan majemuk (multiple intelegensi) yang dimiliki oleh masing-masing orang tersebut di atas adalah merupakan potensi intelektual. Salah satu contoh kongkrit potensi intelektual adalah kemampuan seseorang dalam mengikuti proses pembelajaran.
Pembelajaran sendiri dipandang sebagai suatu proses pengembangan aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif seseorang pada lingkungan tertentu. Menurut Kemendiknas, pembelajaran adalah pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap baru pada saat seseorang berinteraksi dengan informasi dan lingkungan.[21][21]
Pembelajaran tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan multiple intelegensi. Dengan menggunakan pendekatan multiple intelegensi, maka pengembangan aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif peserta didik akan maksimal.
Adapun implementasi penerapan multiple intelegensi sebagai pendekatan dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
1.       Proses pembelajaran yang mengembangkan intelegensi verbal linguistic
Proses pembelajaran yang mengembangkan intelegensi verbal linguistic dapat merangsang perkembangnya multi intelegensi dalam setiap mata pelajaran
Beberapa cara yang dapat dilakukan dalam pembelajaran untuk mengembangkan intelegensi verbal linguistic dalam pembelajaran adalah mendengarkan materi yang akan dibahas dari kaset maupun dari informasi yang langsung disampaikan oleh guru, diskusi kelas, membuat hasil laporan pengamatan, melakukan kegiatan wawancara, mencari bahan untuk melengkapi tugas, menulis karya ilmiah dan sebagainya.
2.       Pembelajaran yang mengembangkan intelegensi logika matematika
Dalam proses pembelajaran, yang patut diperhatikan adalah penerapan konsep dasar materi pembelajaran secara tepat.
Penerapan intelegensi logika matematika dalam pembelajaran IPA dapat melalui beberapa cara, yaitu:
a)      Metoda Ilmiah
Metoda ilmiah adalah suatu cara untuk menemukan produk ilmiah dengan langkah-langkah yang logis dan matematis. Proses umum metode ilmiah secara empiris adalah:
1)      Menemukan masalah;
2)      Menyusun hipotesa atau dugaan sementara;
3)      Menguji hipotesis dengan melakukan percobaan;
4)      Menarik kesimpulan; dan
5)      Menguji kesimpulan.
b)      Berfikir secara Ilmiah Berdasarkan Kurikulum
c)       Logika Deduktif
Logika deduktif adalah cara berfikir dengan menguraikan konsep yang umum ke konsep yang khusus. Contohnya :
1)      Silogisme, yaitu argumen yang tersusun dari dasar pemikiran dan kesimpulan;
2)      Diagram venn, yakni menggunakan lingkaran yang saling melengkapi untuk membandingkan sekumpulan informasi.
d)      Logika Induktif
Logika induktif adalah cara berfikir seseorang dengan mempertimbangkan kenyataan fakta khusus kepada kasimpulan umum dengan menggunakan analogi.
e)      Meningkatkan Belajar dan Berfikir
Meningkatkan berfikir siswa, guru dalam pembelajaran menggunakan media pembelajaran.
f)       Proses Berfikir secara Matematika
Matematika mata pelajaran yang khusus berfikir abstrak dan sulit, sehingga anak tidak tertarik. Untuk itu guru dapat menyusun pembelajaran dengan pola gambar, grafik, dan pembuatan kode untuk menimbulkan keingintahuan.
g)      Bekerja dengan angka-angka
Siswa yang menyukai ketelitian akan menemukan kesenangan bekerja dengan angka-angka seperti pengukuran, peluang, masalah-masalah dalam bentuk cerita.
h)      Teknologi yang meningkatkan intelegensi logi-matematika
Siswa dapat belajar dengan efektif dengan menggunakan software yang menarik.
3.       Proses pembelajaran yang mengembangkan intelegensi music
Musik memilki kaitan yang erat dengan emosional seseorang, yaitu:
a)         Memberikan suasana yang ramah ketika siswa memasuki ruangannya;
b)        Menawarkan efek yang meredakan setelah melakukan aktivitas fisik;
c)         Melancarkan peralihan antar kelas;
d)        Membangkitkan kembali energy yang mulai sedikit;
e)        Mengurangi strees;
f)          Menciptakan suasana positif di sekolah;
4.       Proses pembelajaran yang mengembangkan intelegensi kinestetik
Ada bermacam-macam aktivitas tectile-kinestetik yang bertujuan untuk mempertinggi pembelajaran siswa di segala usia, yaitu:
a)      Lingkungan fisik: daerah ruang kelas, dalam merencanakan ruang kelas, para pengajar membuat ruangan yang bisa membuat perasaan siswa menjadi senang;
b)      Drama: teater, permainan peran, drama kreatif, simulasi (keadaan yang meniru) keadaan sebenarnya;
c)       Gerak kreatif : memahami pengetahuan jasmaniah, memperkenalkan aktifitas gerak kreatif,menerapkan gerak kreatif keahlian dasar, menciptakan isi yang lebih terarah dari aktivitas gerakan;
d)      Tari : bagian-bagian tari, rangkaian pembelajaran melalui tari;
e)      Memainkan alat-alat: kartu-kartu tugas, teka-teki kartu tugas, menggambar alat-alat tambahan, membuat tanda-tanda bagi ruang kelas.
f)       Permainan ruangan kelas: binatang buruan (binatang pemakan bangkai) permainan-permainan lantai besar, permainan-permainan merespon gerak fisik secara meanyeluruh, permainan mengulang hal yang umum;
5.       Proses belajar yang mengembangkan intelegensi visual spasial
Proses belajar ini merupakan suatu proses yang mengembangkan kemampuan persepsi, imajinasi dan estestika. Ada 3 komponen dari gambaran visual:
a)      Gambaran eksternal yang kita rasakan;
b)      Gambaran internal yang kita impikan/kita bayangkan;
c)       Gambaran yang kita ciptakan melalui gambar yang tak beraturan.
6.       Proses belajar yang mengembangkan intelegensi interpersonal
Adapun cara belajar dengan mengembangkan pendekatan intelegensi interpersonal dengan membangun lingkungan interpersonal yang positif, yaitu:
a)      Kriteria group yang efektif :
1)      Lingkungan kelas hangat dan terbuka;
2)      Guru dan siswa bersama-sama membuat tata tertib dan sanksi berdasarkan kemanusiaan;
3)      Proses pembelajaran saling ketergantungan yaitu melakukan peran aktif dan kontribusi darai semua siswa;
4)      Belajar bertujuan untuk belajar dari kurikulum, dari teman dan dari pengalaman;
5)      Tugas dan tanggung jawab dibagi rata, sehingga setiap anggota kelas merasa penting dalam kelas;
6)      Pembelajaran kolaboratif;
7)      Penanganan konflik;
8)      Belajar melalui tugas sosial/jasa;
9)      Menghargai perbedaan;
10)   Membangun persfektif yang beragam;
11)   Pemecahan masalah global dan local dalam pendidikan multicultural;
12)   Tekhnologi yang meningkatkan intelegensi interpersonal;
7.       Proses belajar yang mengembangkan intelegensi intrapersonal
Adapun penerapan pendekatan intelegensi intrapersonal adalah sebagai berikut:
a)      Membangun suatu lingkungan untuk mengembangkan pengetahuan diri;
b)      Penopang penghargaan diri;
c)       Penyusunan dan pencapaian tujuan;
d)      Keterampilan berfikir;
e)      Pendidikan keterampilan emosional dalam kelas;
f)       Mengetahui diri sendiri melalui orang lain;
g)      Merefleksikan ketakjupan dan tujuan hidup;
h)      Belajar mengarahkan diri sendiri;
i)        Teknologi yang mempertinggi intelegensi interpersonal.
8.       Proses pembelajaran yang mengembangkan intelegensi naturalism
Proses pembelajaran ini merupakan suatu proses yang mengembangkan kemampuan naturalism pada siswa yaitu:
a)      Menata lingkungan sekolah yang hijau dan asri;
b)      Dalam mempelajari materi yang berhubungan dengan klasifikasi tumbuhan, ekosistem, pencemaran lingkungan siswa diajak langsung ke alam;
c)       Sekolah menyediakan alat bantu pelajaran seperti torso dan charta tentang organ-organ tubuh manusia;
d)      Menerapkan pelajaran pertanian atau perikanan yang disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing;
e)      Sekolah mengembangkan proses pembelajaran yang dapat membangkitkan kepedulian siswa terhadap lingkungan;
9.       Proses pembelajaran yang mengembangkan intelegensi emosional
Pembelajaran emosional dapat meningkatkan sistem pembelajaran kognitif, dimana dengan cara ini otak emosional terlibat dalam pembelajaran/penalaran sama kuatnya dengan otak berfikir. Prinsip ini harus diterapkan oleh guru dalam mengajar. Menurut Goleman, 1995 (dalam barbara k.given, 2002). Hal-hal yang dapat diterapkan oleh guru dalam mengembangkan intelegensi emosional adalah sebagai berikut:
a)      Sebaiknya guru dalam mengawali pelajaran dengan sikap lemah lembut, dengan cara bertahap meningkatkan antusiame;
b)      Menciptakan suasana kelas seperti yang diinginkan siswa;
c)       Guru bias menggerakkan siswa perlahan-lahan menuju keadaan sosial emosional yang berbeda;
d)      Dalam mengajar hendaknya guru mengembangkan rasa humor yang bisa menurunkan ketegangan yang mungkin timbul akibat ketidak selarasan antara guru dan siswa.
10.   Proses pembelajaran yang mengembangkan intelegensi spiritual
Dalam proses pembelajaran sebaiknya memperluas cakupan dari ayat- ayat Al Qur’an serta makna-makna yang terkandung di dalamnya, sehingga mengakar di dalam jiwa dan pikiran siswa dengan cara menarik hikmah dari materi pembelajaran yang disampaikan kepada siswa.






BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat dipahami bahwa intelegensi, yang seringkali diartikan dengan kecerdasan, adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu dalam merespon dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kecakapan tersebut meliputi aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif.
Realitanya, intelegensi itu memilki banyak jenis dan beranekaragam. Hal inilah yang kemudian mendorong lahirnya pandangan, bahwa intelegensi itu mencakup 10 dimensi seperti yang dipaparkan oleh Gardner.
Kenyataannya, teori Gardner, yang terkenal dengan istilah teori multiple intelegensi tersebut dipandang sebagai teori yang relatif lebih kompleks dalam menjelaskan intelegensi. Pandangan Gardner dilatar belakangi oleh pemahamannya bahwa sejatinya setiap manusia berhak menjadi orang cerdas. Gardner melihat setiap orang memiliki potensi bawaan yang diperoleh dari keturunannya (genetik), dan pengalaman-pengalaman berikutnya akan mengembangkan potensi tersebut, meskipun dia mengakui, bahwa potensi yang dimiliki setiap orang tidaklah sama.
Dengan menggunakan pendekatan multiple intelegensi, maka pendidikan yang didesain akan selaras dengan segala potensi yang dimiliki oleh seluruh peserta didik. Karena teori ini tidak membatasi pengembangan dalam dimensi tertentu semata, di samping juga teori ini mendorong pentingnya pengembangan secara serentak terhadap ketiga aspek, yakni aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif.



KEPUSTAKAAN

Bibliography

_, _ _ _ _. Teori Multi Intelegensi. 07 08, 2008. http://kangmassoma.blogspot.com/2008/07/teori-multi-intelegensi (accessed 01 20, 2012).
_, _ _. Macam-macam Intelegensi. 03 08, 2010. http://sekolah-dasar.blogspot.com/2010/03/08/macam-macam-intelegensi (accessed 01 20, 2012).
Amri, A. Pedagogik Transformatif Aceh. Aceh: FKIP Syah Kuala, 2008.
Dewa, Erika. Penerapan Multiple Intelegensi. 04 25, 2009. http://erikadewa.multiply.com/journal/item/48/Penerapan_Multiple_Intelegensi (accessed 01 20, 2012).
Djaali, Prof. Dr. H. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2007.
Morgan, Clifford T. Psikologi Sebuah Pengantar. Jakarta: PT. Pradnya Paramita, 1986.
S. Kartadinata, dkk. Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Koseling. Jakarta: _ _ _, 2007.
Santrock, Jhon W. Psikologi Pendidikan. Jakarta.Kencana Media Grup,  2010.

Slavin Robert E. Psikologi Pendidikan Teori dan praktek. Jakarta, PT. Indeks, 2011

Soemanto, Drs. Wasty. Psikologi Pendidikan; Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan. Jakarta: PT. Renika Cipta, 1990.
Sunardi, S.Pd. Kecerdasan Majemuk. 04 21, 2009. http://nardisungailin.blogspot.com/2009/04/kecerdasan-majemuk.html (accessed 01 20, 2012).





[1][1] Morgan, Clifford T. Psikologi Sebuah Pengantar. Jakarta: PT. Pradnya Paramita, 1986. h. 7
[2][2]   Djaali, Prof. Dr. H. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2007. h. 4.

[4][4] Anita Woolfolk, Educational Psychology Active Learning Edition , edisi bahasa Indonesia ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009). Hlm. 168
[5][5] Santrock, Educational Psychology, third edition (Boston : Mc. Graw Hill, 2008) hlm. 115
[6][6]   Djaali, Prof. Dr. H. Psikologi Pendidikan. Opcit. h. 5.
[7][7]   Amri, A. Pedagogik Transformatif Aceh. Aceh: FKIP Syah Kuala, 2008. h. 19.
[8][8]   Ibid. h. 23.
[9][9]  Slavin Robert E. Psikologi Pendidikan Teori dan praktek. Jakarta, PT. Indeks, 2011. h.159
[10][10]   Sunaryo Kartadinata, dkk. Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Koseling. Jakarta: _ _ _, 2007. h. 6
[11][11]    _, _ _. Macam-macam Intelegensi. 03 08, 2010. http://sekolah-dasar.blogspot.com/2010/03/08/macam-macam-intelegensi (accessed 01 20, 2012).
[12][12]   Djaali, Prof. Dr. H. Psikologi Pendidikan. Opcit. h. 5.
[13][13]   Ibid. h. 68.
[14][14] Santrock, Jhon W. psikologi pendidikan. Op.Cit.h. 134
[15][15]  Ibid. H. 72-74.
[16][16] Santrok hal. 136
[17][17]   _, _ _ _ _. Teori Multi Intelegensi. 07 08, 2008. http://kangmassoma.blogspot.com/2008/07/teori-multi-intelegensi (accessed 01 20, 2012).
[18][18]   Sunardi, S.Pd. Kecerdasan Majemuk. 04 21, 2009. http://nardisungailin.blogspot.com/2009/04/kecerdasan-majemuk.html (accessed 01 20, 2012).
[19][19]   Ibid
[20][20]   Soemanto, Drs. Wasty. Psikologi Pendidikan; Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan. Jakarta: PT. Renika Cipta, 1990. h. 46-48.
[21][21]  Ibid.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar